Kami termangu. Mengingat apa yang baru saja terjadi. Semua
diam. Masih dalam ‘kemelongooan’ masing-masing.
“dia marah”. Suara lala yang sedikit nahan tangis memecah
keheningan. “ya. Dia marah.” Rohmah juga ikut bicara. Aku hanya diam. Aku masih
belum bias mencerna apa yang baru saja ‘dia’ dan mereka katakan. “gimana ini…?”
“aku gak tau” “benertah dia marah?”. “ya denger aja apa yang tadi dia bilang!
Nada suaranya. Kok dia gitu sih.” Kali ini aku sudah menyadari apa yang
terjadi, dan ternyata bukan mimpi. Kami kira kami tidak akan membuatnya
terganggu atau tersinggung, tapi ternyata salah. Bambang marah. Tentu saja kami
panic persis kakek-kakek kebakaran
jenggot(*emang lu tau?). gimana nasib
kami besok? Gimana kalo bambang tiba-tiba ‘nongol’
depan kami? Ya ampuun..mau tarok mane ni
muka??? Siang hingga sore ini kami habiskan dengan gelisah. Galau euy!*plakk.